Hudan II
Juli 7, 2008Dia datang dengan *segunung api…*
(*Iwan Fals, Air Mata Api, album Mata Dewa, 1989)
SABTU malam (5/7) Minggu, Hudan Nor datang di Book Cafe, samping Museum, Banjarbaru. Sastrawan muda Kalsel yang tiga bulan lewat mengalami kecelakaan parah, yang meremukkan beberapa tulang paha, rahim dan rusuknya ini mengaku kangen dengan kawan-kawan sastrawan. Ia pun lalu membacakan sebuah catatan (barangkali puisi), yang ditulisnya di saat-saat masa terberatnya di rumah sakit. Dengan disaksikan beberapa sastrawan, seperti Rifani Djamhari, Fitran Salam, Sirajul Huda, Harie Insani Putra, Nina Indhiana, mahasiswa STIKP PGRI Banjarmasin Wawan dan Umai, kelompok Sanggar Matahari, serta beberapa pengunjung lainnya, Hudan dengan bibir bergetar membacakan catatan yang masih ditulis tangan itu. Berikut ini catatan Hudan, yang akan ditampilkan bersambung….
Banjarmasin Menangis, 23 Juni 2008
Yth. Segenap Dedah
Di
Samudra Mimpiku
Selamat Datang,
Hari ini aku berjumpa lagi dengan matahari. Sudah lama nampaknya, aku tidak merasakan kegarangannya setelah aku kalah dengan keluhku, dengan rasa sakitku. Hari ini aku mencoba menulis lagi, sekadar menuliskan segenap apa-apa yang pernah aku rasai. Memang, tidak semua rasa bisa ku patrikan di sini. Sebab lembah khayal dan keterbatasan apa yang kupunya. Aku ada karena ada. Itu saja alasanku untuk menulis. Selebihnya, berapa nilai dari sebuah air mata!? Bukankah cukup ternilai namun tidak setiap dari kita paham akan itu! Baca entri selengkapnya »





